Kamis, 08 Januari 2015

Single Ville


Judul: Single Ville
Penulis : Choi Yun Kyo
No ISBN : 9786027742437
Tahun Terbit : Desember 2014
Jumlah Halaman : 308 halaman
Rating : ☆☆☆ ½
Jenis : Paperback 
Penerbit : Penerbit Haru
Sinopsis :

Di Tempat Ini Apa pun Mungkin Terjadi!

Kecuali Percintaan


Apakah Anda sudah lelah akan cinta?
Apakah Anda sudah bosan hidup Anda diganggu orang lain?
Inilah Single Ville, sebuah cottage yang modern.
Syaratnya hanya satu: single!
Mulailah sekarang juga, kehidupan yang menyenangkan tanpa cinta.


Enam orang, yang terdiri atas laki-laki dan perempuan, akan menjadi penghuni Single Ville. Mereka adalah orang-orang yang terpilih melalui persaingan ketat dengan tingkat persaingan 1:1000.

Akan tetapi, yang menanti mereka di tempat itu bukanlah kehidupan yang tenang.

Setiap hari berbagai peristiwa aneh dan misterius menimpa orang-orang yang memimpikan kehidupan lajang yang indah. Mulai dari jendela yang pecah, seorang penguntit meninggalkan tulisan aneh di kamar mandi, tersangka pembunuhan yang berkeliaran, dan… pelanggar peraturan utama Single Ville.
Akankah mereka menikmati ketenangan yang mereka dambakan? Lalu, siapakah yang nantinya akan menerima hukuman karena jatuh cinta? 




*
*
*
*

Seharusnya aku hanya membeli buku untuk TOEFL saja, namun pada akhirnya aku membeli buku ini karena yakin gak bakalan menang giveaway yang diakan Penerbit Haru dan ternyata benar, hahaha akibat penasaran. Aku kalau penasaran berbahaya mah, bisa uring-uringan dan orang tak berdosa bisa jadi korbanku :”))

Novel ini bercerita tentang sebuah desa yang bernama Single Ville yang diciptakan untuk para lajang agar tidak terganggu oleh stigma masyarakat jika para lajang itu adalah anomali dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi meskipun diciptakan untuk para lajang, tetap saja yang tinggal di sini tidak bisa sembarangan orang. Mereka dipilih setelah melewati proses seleksi yang panjang dan ketat (karena hanya ada 6 rumah dan pemilihannya semakin selektif).

Ceritanya di mulai dari prolog yang menceritakan penampakan Single Ville (dan karena ada disebutkan nama pohon birch putih, aku langsung google penampakan pohon ini) serta perkenalan semua penghuni yang akan mendiami Single Ville. Dan ceritanya mengalir untuk menceritakan setiap masalah yang dihadapi para tokoh-tokoh serta alasan mengapa mereka memilih ke Single Ville. Meskipun pada akhirnya penghuni Single Ville melanggar peraturan utama, yaitu tidak boleh jatuh cinta, pada nyatanya semua penghuninya tidak bisa mengabaikan perasaan yang satu ini. Diantara banyak couple, aku paling suka Yun Seong yang karakternya aku bayangkan mirip dengan mahwa UnTouchable yang bernama Jiho dengan Hyeon Ah dan Geon Woo dengan Seo Yeong. Ending novel ini cukup menggantung sebenarnya, aku rasanya ingin berteriak “APA?! UDAH GITU AJA? NANGGUNG TAUK!” #nak

Dan untuk novel setebal 308 halaman ini, aku memakan waktu 3 hari untuk menyesaikannya oh andai saja makalah tidak mengangguku pasti jauh lebih cepat.

Kelebihan dari novel ini:
  1. Penampakan tokohnya diberikan ilustrasi yang memudahkan untuk dibayangkan meskipun pada akhirnya malah imajinasinya lari jauh dari ilustrasinya, hahaha dan ini memudahkan pembaca untuk membayangkan bagaimana rupa para tokoh yang ada di buku ini. Oh iya, ini juga menolongku yang selalu lupa nama tokoh terutama nama seorang tokoh laki-laki yang kadang dibalik-balik namanya (dan silahkan baca bukunya sendiri agar tahu apa yang aku maksudkan).
  2. Perasaan semua tokoh tersampaikan dengan baik. Untuk cerita yang memuat banyak orang yang sama besar perannya dalam cerita ini, penulisnya tidak gagal menyampaikan maksudnya. Dan tokoh perempuan yang paling kuat citranya—meskipun orang lain mungkin sebal bahkan benci padanya, adalah Im So Yeong.
  3. Para tokoh yang lifeable. Mereka tidak sempurna, memiliki kekurangan dan ketakutan-ketakutan yang terasa sangat rasional bagiku. Dibalik gambaran awal bahwa mereka memang memutuskan untuk melajang, terselip kisah-kisah yang cukup mewakili para lajang yang sampai detik ini enggan untuk mencari pacar atau bahkan menikah.
  4. Banyak footnote yang sangat membantu pembaca. Footnote yang ada pada novel ini memang banyak, tetapi bagaimana cara merangkainya agar singkat, padat dan mudah dipahami itu adalah suatu hal yang ‘wah’ untukku. Aku pernah baca suatu novel yang footnote-nya memakan sampai setengah halaman yang bikin jengkel.
  5. Banyak quote keren dalam buku ini. Dan aku akan tuliskan di bagian quote buku ini ^_^)
  6. Font dan spasi yang digunakan tidak bikin sakit mata. Dan ini membuktikan bahwa penerbit Haru sudah berkembang dengan pesat karena aku ingat novel Cheeky Romance sebelum repackge itu ukuran font kecil dan spasinya terlalu dempet sampai bikin sakit mata.
  7. Jadi belajar kata baru! Serius, tadi aku mengira ‘lavendel’ itu adalah typo. Tapi buru-buru cek di KBBI yang ada di handphone dan ternyata itu adalah kata baku bahasa Indonesia, hahaha maaf saya kudet. Tapi pas buka google, ternyata kata itu serapan dari bahasa Belanda ya XD lalu kepengen nulis fanfic Nesia
  8. Ada kisah cinta yang jarang mau diangkat para penulis novel. Kisah cinta yang aku maksudkan adalah tentang kisah cinta sesama jenis—dalam hal ini homoseksual alias lelaki menyukai sesamanya. Pergolakan kisah mereka itu menurutku realistis dan aku suka dengan hal itu.


Kekurangan dari novel ini:
  1. Tanda elipsis yang banyak salah dipakai. Sebenarnya sudah lebih daripada bosan menuliskan masalah yang satu ini kalau membaca novel. Tapi diantara semua novel terbitan Haru, elipsis di novel ini yang paling kacau. Pengertian elipsis dan pengaplikasiannya sudah aku bahas di sini dan di novel ini, elipsis yang digunakan kebanyakan adalah 4 titik (....) padahal seharusnya tiga—kecuali tanda ini digunakan pada akhir paragraf yang titik terakhirnya sebagai tanda berhenti. Dan elipsisnya tidak dikasih spasi tuh.
  2. Meskipun perasaan para tokohnya tersampaikan dengan baik, susunan alur ceritanya menurutku sangat mentah dan banyak plot hole. Ceritanya terlalu banyak yang membuatku bingung dan kadang malah membuatku mengulang membaca beberapa halaman. Misalkan saja, situasi yang diciptakan penulisnya pada suatu tokoh sudah mulai nyaman lalu tiba-tiba saja perpindahan ke situasi selanjutnya terlalu cepat sehingga meninggalkan plot hole dan pertanyaan tentang apa yang terjadi pada situasi sebelumnya karena belum terselesaikan dengan baik.
  3. Ada banyak jenis ending, mulai dari happy ending, sad ending, bad ending—dan ya, ini berbeda dengan sad ending sampai cliffhanger ending. Mungkin penulisnya memilih cliffhanger ending untuk menyelesaikan cerita ini—meskipun menurutku ending novel ini bisa diselesaikan jauh lebih baik dan tidak semenggantung ini.
  4. Kebetulan-kebetulan yang terlalu beruntun dan antar tokoh yang saling berkait itu bikin bosan. Entah kenapa, aku yang awalnya sudah jatuh cinta dengan cerita ini, langsung benar-benar patah hati saat mendekati ending karena menyadari para tokoh satu sama lain ternyata memiliki hubungan.


Quote keren dari buku ini (menurutku):
  1. Apa ini yang namanya ekspresi luapan perasaan yang tidak bisa membedakan waktu dan tempat?—hlm 10
  2. Perasaan semacam itu bagaikan kabut tebal yang menjalar di tepi danau menjelang fajar; diam-diam turun menutupi penglihatan manusia—hlm 16 & 17
  3. Ternyata anda sedang terjerat kuat, ya. Seperti orang yang selamanya tidak akan bisa mendapatkan hal yang disebut cinta yang membahagiakan—hlm 138
  4. Menyimpulkan perkataan orang lain sembarangan juga merupakan keahlian orang yang sedang jatuh cinta bukan?—hlm 138
  5. Kata ‘padahal’ membuat percakapan seseorang berhenti dan memberi efek hebat—hlm 145
  6. Kerja keras dan hambatan merupakan dua hal yang pasti kita lalui, karena pilihan apapun yan kita ambil pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan di saat yang bersamaan—hlm 146
  7. Pikirkanlah apa yang tidak dapat kau lepaskan, serta apa yang bisa kau korbankan. Sebab, untuk memperoleh apa yang kau inginkan, kau harus segera melepaskan yang lain—hlm 147
  8. Saling melakukan kesalahan pada satu sama lain, bukankah itu yang disebut dengan keluarga?—hlm 284
  9. Cinta atau pertemuan, semua itu memerlukan timing yang tepat—hlm 296


Sindiran dalam novel ini:
  1. Alasan menangis seperti ini pasti karena hal sepele—hlm 11 lalu merasa tersindir sebagai seorang perempuan, uhuk
  2. Seorang lajang seharusnya hidup mandiri, bukanya menganggu kehidupan orang lain—hlm 73
  3. Apa mandiri itu berarti harus makan sendiri dan tinggal sendirian?—hlm 94
  4. Bukankah tidak akan menikah dan mendambakan sebuah cinta itu hal yang berbeda?—hlm 141


Dan pada akhirnya, aku memberikan tiga setengah bintang. Aku merekomendasikannya bagi yang sedang mengalami dilema tentang ‘lajang’ yang tidak bisa diterima di masyarakat ataupun yang merasa sudah tidak yakin dengan para lajang akan menemukan the right. Kadang, kamu tidak perlu melihat jauh-jauh untuk menemukan siapa yang menjadi the right.

Oh iya, katanya novel ini diangkat ke drama series di Tiongkok loh. Dan ngomongin drama, Vampire Flower kapan terbit ya penerbit Haru? Aku kepo nih mau baca versi novelnya (setelah streaming drama Vampire Flower  yang tayang tahun kemarin).

4 komentar:

  1. Waw nice review. Detil sekali... aku juga penasaran sama premis buku ini dan ternyata ceritanya tdk mengecewakan ya :D

    BalasHapus
  2. Terima kasih kak. Kedetilan itu mungkin karena aku bawel saat baca buku dan sering kasih rating yang 'kejam' pada suatu buku dan biar gak dibilang pilih kasih, aku harus kasih alasan logis dong ^^ #plak

    Oh iya kak, elipsis yang kakak gunakan harusnya di spasi *lalu sungkem karena koreksi tanda baca saat di komentar*

    Ayo kak beli~
    Gak nyesel kok kalo beli :)

    BalasHapus
  3. well, tadinya saya mau beli ini.
    tapi karena ratingnya tiga setengah
    dan karena sepertinya selera kita sama (yeaaaaaaa saya sukaaa bgt Jurnal Jo!!!!)
    dan karena jurnal jo aja dapet 5 sedangkan saya kira yg ini pun setara dgnnya
    maka saya masih dalam pertimbangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beli ini sebenarnya tidak menyesal, karena kisahnya seperti sedang nonton drama 16 episode (dan Bdw ini emang sudah jadi drama, Tiongkok sih yang adopsi). Tapi soal kamu mau beli apa tidak, balik lagi sama kamu. Kan kamu yang memiliki uangnya ^^

      Hapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku