Rabu, 29 Juli 2015

Above the Star

Judul: Above the Star
Pengarang: D. Wijaya
No ISBN: 9789799108845
Jumlah Halaman: 248 halaman
Tahun Terbit: 22 Juni 2015
Rating: 
☆☆ 
Jenis: Paperback
Penerbit: Ice Cube
Sinopsis:
“Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

Danny menggeleng.

“Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”

Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.



Novel ini menceritakan tentang kehidupan Danny yang tidak bisa melihat. Kehidupannya yang diisi dengan orang tua serta sahabatnya, Mia Berry yang over protective padanya, dianggu oleh John Schueller dan kawanannya serta mesin rik Braille yang dimiliki oleh teman-temannya. Seharusnya seperti itu, kehidupan monoton Danny. Namun semenjak murid pindahan baru bernama Will, kehidupannya yang monoton mulai berwarna dan Danny belajar untuk mulai mencintai dirinya sendiri. Lalu kenapa Will menghilang dari kehidupan Danny?

Yah, itulah sepenggal gambaran cerita yang aku bisa catut dari review teman-teman blogger. Lho, kok mencatutu review orang lain, memangnya aku gak baca?

Jawabannya: "Aku menyerah membaca buku ini sejak halaman dua puluh karena berbagai alasan." Alasannya akan aku jabarkan nanti, namun sekarang mari kita bahas saja nilai 'plus' buku ini dulu ya. 

Buku ini merupakan salah satu naskah pilihan dari lomba YARN (Young Adult Realistic Novel) dari Ice Cube. Untuk cover sendiri, ini cover yang menurutku paling cantik diantara semua buku YARN yang aku miliki, sekaligus membuatku merasa tidak adil. Kenapa pemenang 1 sampai 3 tidak diberikan cover secantik buku ini? #protes

Untuk gaya kepenulisannya sendiri, buku ini ditulis seolah-olah seperti buku terjemahan. Pemilihan tema LGBT yang jarang dieksplorasi oleh penulis Indonesia bisa menjadi nilai tersendiri untuk buku ini, apalagi untuk penulis pemula.


Source here
Di Bahasa Inggriskan kurang lebih 'The Way He Looks'
Poster film di atas adalah alasan utama kenapa aku gak bisa menyelesaikan buku ini. Bukan ... bukan aku kedistraksi baca buku ini karena keasikan nonton film Brazil di atas, tapi karena alur novel ini sebagian besar sama seperti Film pendek pemenang penghargaan 'The Way He Looks'. Mungkin aku masih bakalan memaafkan penulisnya kalau di kata pengantar dia memberikan credit ke film ini ataupun saat ditanya para review lain di Goodreads kalau novel ini mirip sama film tersebut, dia bilang 'terinspirasi'. Namun dari jawaban yang aku baca dari penulisnya, aku merasa cukup untuk memperjuangkan buku ini sampai bisa dibaca selesai.

Meskipun ada beberapa orang yang mengatakan jika dari pertengahan sampai akhir kisahnya berbeda, aku tidak bisa membacanya. Kalaupun bisa, mungkin membutuhkan waktu tahunan untuk melakukannya (dan sayangnya aku gak bisa karena buku ini adalah kewajiban untuk di review). Dan ini adalah buku kedua yang kutemukan 'terinspirasi' (atau lebih tepatnya plagiat ide) dari sesuatu. Novel pertama itu terbitan GPU dan sayangnya tidak bisa terdeteksi karena yang dia plagiat adalah sebuah fanfiksi (dimana hukum Indonesia masih belum mengaturnya dengan baik, orz.)

"Kebetulan", "klise/trope", atau "plagiat" pasti akan terlihat jelas bedanya dari kadar kesamaanya. Berlaku juga untuk kutipan (dan dialog), karena walaupun sudah diterjemahkan, kutipan tersebut tetap diambil dari sumber lain yang harus diberi kredit. Tanpa kredit, sama saja pengarang mengaku-ngaku bahwa kutipan tersebut adalah miliknya.

Sumber fan page YARN

Maafkan aku jika merasa buku ini adalah fanfiction film 'The Way He Looks' karena judul asli naskah ini sendiri juga 'The World He Looks' (hanya beda satu kata saja). Yang di atas itu adalah daftar naskah awal yang dipilih oleh pihak Ice Cube dalam pemilihan naskah YARN 2014.

Mungkin penulisnya kurang riset satu hal, anak-anak Indonesia itu kebanyakan fujoshi (penggemar cerita boys love) akibat dari anime maupun manga yang dibacanya dan beberapa diantaranya pasti ada yang memperluas bahan tontonan dari 2D ke 3D. Jadi wajar saja film Brazilpun bisa diketahui oleh mereka-mereka.

Jadi ... apakah novel ini plagiat atau 'terinspirasi' tanpa mencantumkan kredit? Bagiku pribadi, ini plagiat namun bagi beberapa orang ini hanya penulisnya alpa mencantumkan kredit. Bagi orang-orang, penulisnya masih pemula, jadi seharusnya dimaklumi. Aku? Entahlah, aku rasa review panjang lebar ini sudah bisa memperlihatkan bagaimana opini pribadiku tentang buku ini.

Direkomendasikan? Kalau pembacanya tidak bermasalah dengan membaca sebuah cerita fanfiksi sebuah film Brazil dan memuat konten LGBT, maka silahkan dibaca. Kalau tidak bisa menerima salah satu dari dua poin di atas, jangan membeli buku ini jika akhirnya hanya untuk menghujat sang penulisnya.

Aku berharap penulisnya dalam novel selanjutnya jika ingin mencatut dari film/buku/fanfiction sekalipun, berikanlah kreditnya.

2 komentar:

  1. Wow. Kaget untuk kedua kalinya! O_o

    Aku setuju sama kamu. Cover ini memang (paling) cantik dari cover YARN yang lain. Tapi yang bikin aku heran adalah... kalau kamu nggak sanggup menghabiskan membaca buku ini, kok malah ngasih 2 bintang which means "it was okay"? Apa benar ini masih dalam kadar toleransimu? Karena dari ulasanmu yang sudah kubaca sampai akhir itu sepertinya kamu sangat tidak berminat dengan keseluruhan ceritanya. Kenapa tidak diberi 1 bintang saja which mean "I don't like it"? Jelas tergambar di sini bahwa kamu sangat tidak 'masuk' ke kisahnya. :(

    Hmm, sebenarnya aku berharap kamu bisa selesaikan membacanya supaya kamu bisa cantumkan lebih banyak apa saja poin plus dan quote(s) menari di sini. Tapi, nggak apa-apa deh. Aku paham rasanya jadi kamu karena pernah juga ngalamin menyimak hal-hal yang mirip gitu malah bikin nggak nafsu ya? Makan hati. Semoga lain kali bisa dihabiskan meski tidak suka. Kan sayang bukunya, jadi mubazir. :D

    Baru saja aku mau komentar, "mungkin kemiripan ini cuma kebetulan" tapi langsung nggak jadi komentar setelah kamu beberkan fakta di atas. Sebenarnya aku salah satu yang percaya "tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini" dan lagi-lagi aku setuju dengan kalimat di atas tentang kebetulan/klise/plagiat itu.

    Oh ya, kalau boleh tanya tentang statement-mu, "dari jawaban yang aku baca dari penulisnya, aku merasa cukup untuk memperjuangkan buku ini sampai bisa dibaca selesai" itu maksudnya jawaban dari pertanyaan apa dan jawabannya bagaimana ya? Aku kurang ngeh di bagian ini. Apakah ini berasal dari interview dengan David Wijaya di blognya Kak Sulis pas ada giveaway novel ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku tidak memberikan satu bintang dengan alasan:
      1. Penulis pemula yang bisa menyelesaikan naskah dalam 1 bulan
      2. Covernya oke punya (dan sebenarnya satu setengah bintang larinya hanya ke cover)

      Yep, kedua kalinya. Yang pertama aku gak perlu kasih tahu (dan malas berurusan sama fans penulis itu yang mayan fanatik. Aku mah apa, cuma blogger paruh waktu), tapi intinya terbitan GPU. Beberapa member BBI ada yang tahu karena nanya aku.

      Bukan interview dari blog kak Sulis. Coba cek di goodreads yang ngasih dua bintang (selain aku tentunya) dan di sana ada dialog antara David sama yang ngasih rating. Ikut nyimak dan menarik kesimpulan kalau aku gak perlu memperjuangkan buku ini untuk dibaca sampai selesai.

      Hapus

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku