Senin, 11 Januari 2016

Cafe Waiting Love

Judul: Cafe Waiting Love
Pengarang: Giddens Ko
No ISBN: 
9786027742703
Jumlah Halaman: 404 halaman
Tahun Terbit: 1 Januari 2016
Rating: 
☆☆

Jenis: Paperback
Penerbit: Haru

Sinopsis:

Dalam hidup ini, 
ada berapa kali saat di mana jantung berdegup dengan kencang, 
dan kata-kata tidak sanggup terucap?

Aku belum pernah berpacaran,
tapi aku tahu bahwa seseorang yang percaya pada cinta,
seharusnya menghargai momen setiap kali jantungnya berdebar,
kemudian dengan berani mengejar kali berikutnya,
kali berikutnya,
dan kali berikutnya lagi.

Di dalam sebuah cafe kecil,
setiap orang sedang menunggu seseorang.

Berkisah tentang Siying yang bekerja di sebuah cafe yang bernama Waiting Love. Nama cafe ini romantis dan pemiliknya adalah seorang perempuan muda berusia 27 tahun yang dipanggilnya Nyonya Bos. Nyonya Bos ini punya satu menu spesial di cafe ini yang bernama 'Racikan Spesial Nyonya Bos' yang rasanya tidak karuan karena Bosnya itu memasukkan bahan sembarangan ke kopi racikannya. Siying juga mempunyai seorang rekan kerja (yang hanya ingin dipanggil), namanya Albus yang seorang lesbian dan sangat hebat meracik jenis kopi apapun meskipun kadang permintaan pelanggan aneh-aneh.

Setelah benar-benar memahami diriku sendiri, aku baru bisa mengerti seperti apa bentuk dari kebahagiaan yang kukejar itu. Sayangnya, setelah menyadari entitas yang menyelimutiku dengan lembut tersebut, mungkin aku tidak dapat menemukan kepingan puzzle itu lagi. (hlm 6)

Siying yang saat itu kelas 3 SMA, memilih pekerjaan paruh waktu ini karena ingin terlihat mandiri diantara teman-temannya yang lainnya. Dia belum pernah jatuh cinta, apalagi berpacaran sehingga saat jatuh cinta pada salah satu pelanggan cafe yang mendapatkan julukan Kenya (karena dia sering memesan kopi Kenya), Siying hanya bisa berharap perasaanya disadari dan memperhatikan dari jauh. Namun di cafe itulah,

Siying bertemu dengan A Tuo yang merupakan seorang lelaki yang selalu diperolok oleh teman-temannya lantaran pacarnya direbut oleh seorang lesbian. Tidak tahan dengan hal itu, Siying memarahi teman-teman A Tuo dan mengatakan jika mereka berada di posisi itu, apakah mereka tahan. Sejak saat itu, Siying berteman dengan A Tuo dan melakukan banyak hal.

Bersama A Tuo, Siying melihat sisi lain orang-orang yang bagi lainnya aneh dan tidak masuk akal sembari berusaha untuk menggapai cintanya pada Kenya. Lalu saat itu datang, apakah benar Siying mencintai Kenya-nya itu atau Siying terlambat menyadari apa yang sebenarnya dirinya cintai?

Sejak awal kehidupan, setiap orang sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan seseorang di suatu tempat. Bagiku, suatu tempat itu adalah di sini. (hlm 43)

Source here, edited by me.
Salah satu buku yang aku PO sekitar akhir bulan Desember dan baru sampai awal Januari ini. Sempat beberapa hari aku tidak mau buka segel plastik novel ini saking cinta sama covernya. Pada akhirnya dibaca karena seorang teman mereview buku ini dan bilang bagus.

Kisah yang dibawakan novel ini mengalir apa adanya. Aku suka dengan kesederhanaan kisah cinta para tokohnya, tidak menggebu-gebu seperti buku romance lainnya dan aku suka dengan diksi novelnya. Salut untuk para perterjemah serta editornya bisa membawa kisah novel ini dengan sempurna.

Siapa bersama siapa, sebenarnya sudah ditentukan sejak awal. Tak peduli serumit apa pun suatu pertanyaan, jawabannya hanya ada satu. Dan hanya bisa satu. (hlm 318)

Aku menyelesaikan membaca novel ini sekitar 4 jam dan itu rekor banget bagiku yang lagi terserang reading slump. Berharap dengan membaca novel ini, aku bisa kembali ke mode rajin baca novel dan mereviewnya.

Oh iya, ini sudah diadaptasi menjadi film pada tahun 2014 yang lalu. Aku belum nonton filmnya sih, tapi katanya ada beberapa versi dari novelnya yang berubah di film. Namun katanya, baik bukunya maupun filmnya tidak mengecewakan. Kapan-kapan kalau aku berhasil mencari filmnya, aku review deh. Sementara lihat trailernya di bawah ini dulu ya ^^



Aku benar-benar jatuh cinta dengan gaya kepenulisan Giddens Ko dan aku tanpa ragu memberikan lima bintang pada novel ini karena aku mencintai gaya penceritaanya. Untuk endingnya sendiri, sebenarnya bisa dibilang cliffhanger ending. Namun entah kenapa, rasanya ceritanya memang pas untuk digantungkan sampai di situ saja.

Direkomendasikan bagi yang menginginkan kisah cinta yang tidak rumit dan sederhana. Sekaligus mengingatkan kita bahwa cinta itu tidak perlu dicari dengan hal-hal yang rumit. Cukup menunggu seseorang untukmu datang di saat yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian sangatlah berharga bagiku